Satelit ini, ungkap Josaphat, sangat bermanfaat untuk kegiatan perikanan dan maritim. “Banyak kecelakaan di darat atau laut. Saat ini Jepang pun terlalu banyak memiliki jalan tol. Pasti sulit jika melakukan pengawasan satu persatu,” papar Josaphat membagi pengalamannya. Satelit ini juga dapat mengetahui terowongan-terowongan besar agar dapat menghindari kerubuhannya. Satelit ini juga dapat mendeteksi pergerakan teroris.
Saat ini, pembuatan Satelit LAPAN A5 memasuki tahap riset model. Sebenarnya, ide teknologi SAR ini telah banyak dilirik oleh berbagai negara di dunia. “Sudah banyak diadopsi beberapa negara untuk merealisasikan, jadi kita dikejar waktu untuk membuatnya menjadi yang pertama di dunia,” tutur Josaphat penuh harap.
Selain Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo PhD dan Dr Albertus Heru yang menyampaikan materi terkait satelit, dalam kuliah tamu ini juga dihadirkan narasumber lain dari Departemen Teknik Geomatika ITS sendiri, yaitu Prof Dr Ir Bangun Muljo Sukojo DEA DESS yang ahli dalam bidang geospasial.
Wakil Rektor IV bidang Penelitian, Inovasi dan Kerja Sama ITS, Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc, berharap agar ITS dapat banyak memberi kontribusi untuk pengembangan Satelit LAPAN A5 ini. “Butuh kerja sama baik dari LAPAN, Chiba University, dan ITS. Saya berharap dengan kerja sama ini maka peran ITS akan semakin terlihat dalam kerja sama ini,” ungkap guru besar Teknik Sistem Perkapalan ini saat membuka acara.
Kuliah tamu tersebut dilanjutkan dengan melakukan Focus Group Discussion (FGD) oleh semua tim satelit dari ITS, LAPAN, dan Prof Josaphat sebagai perwakilan dari Chiba University. Dari ITS sendiri melibatkan perwakilan dari beberapa departemen yang terkait antara lain Teknik Geomatika, Teknik Elektro, Teknik Material, Teknik Kelautan, dan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK).












