Dimana dalam budaya masyarakat pesisir dalam hal ekonomi terbiasa dengan sistem habis atau tidak mengenal sistem disimpan, berbeda dengan masyarakat agraris/petani yang justru sebaliknya, mereka terbiasa harus menjual habis hasil melautnya sesaat setelah pulang melaut.
Dan yang dilakukan Pemkot adalah membuat central niaga yang lebih condong ke sistem agraris seperti sentra ikan Bulak menjadi sebuah kontra produktif, dan yang terjadi adalah penolakan karena mereka merasa ada cultur setting yang tidak pas
Jika Pemkot peka, Pemkot seharusnya memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat pesisir dengan pemberdayaan potensi kekhas-an kampung nelayan menjadi sebuah kampung wisata yang memiliki nilai jual tersendiri.
Seharusnya, kampung nelayan dikawasan pesisir “Dibangunkan dari tidur lamanya” dan dikembangkan kemampuannya dengan berdasarkan keahlian masyarakatnya. Seperti yang saat ini nampak pada masyarakat pesisir, saat ini mereka memiliki keahlihan dalam pengolahan ikan asap, pengolahan kerajinan laut tangan dan pengolahan kuliner laut lainnya. Jadi, dibuatkan blok-blok kampung nelayan berdasarkan keahlihan mereka, misal blok kampung wisata ikan asap dan lainnya.
Hal tersebut selain bisa dengan mudah untuk memetakan, bisa juga menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk lebih mengeksplore lebih dalam wisata Kenjeran. Selain itu, Pemkot harus bisa mensentralkan destinasi wisata kuliner laut diseluruh sudut kota Surabaya ke kawasan wisata Kenjeran, karena dengan demikian, selain pengawasannya mudah hal itu juga bisa mendorong kawasan Kenjeran bisa berkembang.

Sebagai pendongkrak dan pendukung pengembangan wisata kenjeran, Pemkot yang memiliki legal power harus bisa mensentralkan wisata kuliner laut yang tersebar di Surabaya ke kawasan wisata Kenjeran.
Karena saat ini yang menjadi sentra wisata kuliner laut dikota pahlawan ini bukan malah dikawasan pesisir tetapi malah ditengah kota.
Lihatlah dikawasan jalan Kertajaya, Dharmahusada, G-walk dan lain sebagainya, kalau dihari minggu pasti sudah antri-antri kalau mau makan di rumah makan yang menawarkan olahan hasil laut di kawasan tersebut.
Apalagi sebetulnya, Kenjeran memiliki side potensi yang selain keahlihan masyarakat pesir dalam pengolahan ikan dan pembangunan-pembangunan disana. Kenjeran punya ritual tahunan “ dikunjungi “ ikan Hiu Tutul atau Naga Bintang.
Dimana jika ritual ini di jadikan sebuah paket wisata berupa perjalanan wisata petualangan bersama nelayan, dengan bonus bisa melihat Hiu Tutul maka saya yakin Kenjeran punya daya tarik tersendiri sebagai penutup kekurangan pantai kenjeran yang saat ini terlihat kotor dan tidak memiliki zona pasir putih karena hanya terdiri batu-batuan cadas.












