Menurut Fikri, pelaku usaha kuliner harus berkreatifitas itu yang nanti akan digali disamping tetap saja basic nya juga supaya dikembangkan dan lebih luas lagi pemasarannya,” katanya.
Fikri menjelaskan problematika pelaku ekonomi kreatif paling tidak ada dua yaitu permodalan dan pemasaran. Permodalan ini kalau sudah ada intelektualnya nanti akan ada pembiayaan jadi istilah kerennya itu property skema pembiayaan berbasis kekayaan intelektual. Kemudian yang kedua adalah marketing system, sistem-sistem pemasaran berbasis intelektual. Ini kuliner dengan produk dan modelnya beda juga bermacam-macam serta kemasannya juga beda dengan lainnya,” terangnya.
Ditanya soal apakah nantinya pelaku usaha kuliner akan diikutsertakan dalam kegiatan Bintek nantinya?, Fikri mengatakan melalui bidang seperti ini kalau bisa menjangkau semua saya kira lebih bagus cuman kan keterbatasan ini kan saya enggak tahu,” jawab Fikri.
“Tadi saya dengar ada pelaku usaha kuliner yang dari Margasari, ada juga dari daerah lainnya di Kabupaten Tegal. Ya paling tidak ada perwakilan dari setiap wilayah yang sudah hadir mengikuti Bimtek ini,” ujar Fikri.
Fikri berharap melalui kegiatan ini diharapkan bisa menjadi wahana bagi pelaku usaha kuliner untuk bertukar pikiran dan informasi dalam membangun kreativitas dan inovasi membangun kuliner sehat berbasis biodiversity Indonesia. Selain itu, juga dapat meningkatkan minat generasi muda untuk mengembangkan kuliner nusantara serta memunculkan start up kreatif untuk kuliner sehat.



