Di samping itu, ia juga memastikan bahwa pengoperasian angkutan feeder ini adalah sebagai salah satu upaya dalam memberdayakan sopir angkot di Kota Pahlawan. Makanya, sopir dan helper dari feeder ini diambilkan dari sopir angkot yang terdampak. “Jadi, apapun yang kita sepakati dengan DPRD, apapun kegiatan pemerintah yang menggunakan APBD harus bisa menarik dan mengurangi kemiskinan di Kota Surabaya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Tundjung Iswandaru juga memastikan bahwa dari 52 angkutan feeder itu ada sebanyak 320 orang yang bertugas sebagai driver dan helper. Mereka direkrut dari para sopir angkot yang selama ini sudah berpengalaman dalam menyetir mobil. “Berdasarkan arahan Pak Wali, kita berdayakan para sopir angkot ini agar pendapatannya bisa meningkat,” kata Tundjung.
Ia juga memastikan bahwa angkutan feeder ini merupakan transportasi yang handal, nyaman dan murah yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Surabaya. Pasalnya, angkutan feeder ini sudah ber-AC, tempat duduk untuk wanita berwarna pink (merah muda), tempat duduk untuk lansia berwarna merah, dan tempat duduk untuk umum berwarna hitam.
“Di dalam juga kami lengkapi LED informasi rute, monitor layanan informasi, media pembayaran atau tapping, dan juga ada CCTV-nya,” ujarnya.
Selama sepekan ini, angkutan feeder ini gratis atau tidak dipungut biaya terhitung mulai angkutan feeder ini dioperasikan. Setelah itu, pembayaran angkutan feeder menggunakan sistem non tunai (kartu elektronik atau Qris) dengan tarif Rp 5.000 untuk penumpang umum, dan hanya Rp 2.500 untuk pelajar dan mahasiswa.
“Nah, tarif ini masih berlaku jika penumpang itu berpindah modat ransportasi keSuroboyo Bus selama belum melampaui waktu 2 jam. Jadi, ayo bersama-sama kita gunakan transportasi umum ini,” pungkasnya. (Adv)












