Ia menyarankan, anak-anak muda untuk melek politik. Apalagi menghadapi Pemilu 2024. “Politik itu tidak seram, dan tidak seperti yang dibayangkan. Dan di tahun 2024, ketika memasuki Pemilu, anak muda harus terlibat. Jangan hanya di sosmed saja,” pintanya.
Ketua Karang Taruna Surabaya, Fuad Benardi, yang juga putra sulung Bu Risma, mengatakan dirinya masuk barisan PDIP karena kemauan sendiri. Sekalipun ibunya kala itu menjabat walikota Surabaya dari PDIP, dan menjabat Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kebudayaan.
“Saya masuk PDIP karena kemauan sendiri. Saya masuk menjadi kader PDIP sejak 2015,” ungkap Fuad.
Fuad bergabung PDIP karena tertarik pada pemikiran Bung Karno. Menurut dia, gagasan-gagasan Bapak Bangsa itu masih relevan sampai sekarang. “Pemikiran Bung Karno itu memang visioner, dimana beliau itu memikirkan sesuatu hal yang sampai sekarang ini masih ada,” paparnya.
Ketua Taruna Merah Putih Surabaya, Aryo Seno Bagaskoro menegaskan bahwa politik itu memberikan hal yang konkret. “Saya memerlukan alat juang untuk memperbaiki yang ada di sekitar saya. Dan, PDI Perjuangan menyediakan banyak hal untuk itu. Maka, saya memutuskan bergabung dengan partai ini,” kata mahasiwa Ilmu Politik, FISIP, Universitas Airlangga itu.
Sementara, Ketua DPC PDIP Surabaya Adi Sutarwijono memaparkan bahwa kader PDIP itu harus berada di tengah-tengah rakyat, dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Kader PDIP harus pribadi yang terbuka dan mudah diakses warga masyarakat.
“Sehingga warga masyarakat merasa diayomi, didampingi dan dibela, diperjuangkan kepentingan-kepentingannya. Terlebih ketika berada dalam kesulitan,” kata Adi, yang juga Ketua DPRD Kota Surabaya.
Lantas, Cak Awi sapaan akrabnya pun menjawab kader PDIP yang militan. “Jangan sampai perjuangan untuk wong cilik itu dikhianati. Jadi harus bisa mengayomi banyak orang,” pungkasnya.












