“Untuk membantu biaya pendidikan para pelajar dari keluarga tidak mampu, sekaligus mencegah putus sekolah akibat kesulitan biaya,” kata Adi.
Kedua, dari sisi peningkatan sektor kreatif dan olahraga. Anak-anak muda Surabaya yang menggeluti sektor kreatif dan olahraga sangat banyak. Potensinya sangat besar, sehingga perlu terus difasilitasi melalui dukungan sarana-prasarana dan anggaran.
“Seperti bidang musik, arsitektur, seni pertunjukan, tari, fotografi, film, banyak sekali talenta muda Surabaya. Demikian pula di bidang olahraga, dari sepak bola, basket, futsal, sepeda, hingga skateboard. Luar biasa potensinya,” ujarnya.
Berbagai potensi itu, sambung Adi, harus dikembangkan dengan dukungan berbagai elemen secara bergotong royong. “Kita harus jadikan Surabaya sebagai ekosistem pro kaum muda, yang ramah program anak muda. Termasuk dengan pola pembangunan partisipatif, yang membuka ruang bagi anak muda. Kita harus membuka ruang dialog, sering berdiskusi dengan anak-anak muda. Sehingga program yang dihasilkan tepat sasaran,” beber Adi.
Adapun aspek ketiga, lanjut Adi, adalah memperkuat rasa nasionalisme di kalangan anak muda. Bentengi kaum muda dari berbagai sikap intoleransi.
“94 Tahun silam, kaum muda dari berbagai daerah, dari berbagai organisasi, menanggalkan segala sekat identitasnya, untuk menjadi Indonesia. Kita semua di Surabaya perlu meneguhkan sikap keindonesiaan itu. Sehingga kota ini tetap menjadi rumah besar yang ramah semuanya, dan itu bisa diperkuat dengan pelibatan anak muda dalam berbagai aktivitas multikultural,” ujar Adi.



