“Kadang kita lupa yang kita bangun adalah bangunan yang monumental, tapi masih melihat banyak anak-anak yang membutuhkan,” ujarnya.
Menurut Cak Eri, tumbuh kembang seorang anak itu pula tergantung dari peran serta dan kondisi para orang tuanya. Oleh karenanya, sekarang ini pemkot juga concern berupaya untuk mengentas Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
“Nah, itu yang harus dikejar, yang kita maksud membangun Surabaya dengan hati. Bagaimana keluarga punya pendapatan Rp4 juta dan saya inginnya Rp7 juta, baru mereka bisa mendidik anaknya. Jadi, tidak bisa dilepaskan dari peran orang tua, karena kebahagiaan orang tua adalah kebahagiaan anak,” imbuhnya.
Dalam puncak peringatan HAN di Balai Pemuda itu, juga dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari stakeholder, akademisi hingga instansi terkait dari pemerintah. Seperti di antaranya adalah Rektor Universitas Airlangga (Unair) Mohammad Nasih serta Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pramawati.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua KPAI, Rita Pramawati mengaku bangga kepada anak-anak Surabaya yang hadir dan menampilkan berbagai potensi yang dimiliki. Baginya, kehadiran mereka ini merupakan masa depan Kota Surabaya.
“Anak-anak ini merupakan masa depan Kota Surabaya. Mereka hadir dengan menampilkan berbagai karyanya dan ini menjadi catatan baik bagi Kota Surabaya,” kata Rita Pramawati.
Tak lupa, Rita juga mengucapkan selamat kepada Pemkot Surabaya yang telah berhasil meraih Kota Layak Anak Kategori Utama untuk yang kelima kalinya. Baginya, hal tersebut tentu saja sesuatu yang tidak mudah. Namun, ia percaya, di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi, Surabaya akan mampu meraih Kota Layak Anak.
“Saya ingin mengingatkan kembali ada persiapan 2 tahun untuk menuju Kota Layak Anak yang sebenar-benarnya. Dengan capaian lima kali ini harus dipersiapkan betul. Saya percaya di bawah kepemimpinan Pak Eri Cahyadi, Surabaya terus maju menjadi Kota Layak Anak,” pungkasnya. (hadi)













