Menurutnya, sejak tahun 2020 sampai sekarang, para pekerja seni tradisional mengalami masa yang sulit. “Ibaratnya selama pandemi kita terjun bebas. Tidak bisa beraktifitas, tidak bisa berekspresi. Kasihan pekerja seni tidak bisa berkembang,” ungkapnya.
Pegiat lembaga beragam seni tradisional seperti Reog, Jaranan, dan Karawitan ini, menitipkan aspirasi kepada Anas Karno agar Pemerintah kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pariwisata sebagai pemegang anggaran seni, memberikan fasilitas supaya para pekerja seni tradisional tidak hanya latihan saja. Melainkan juga pentas, terutama di SWK Semolowaru.
“Mumpung ini ada masa reses. Aspirasi kami ini kami sampaikan ke Pak Anas supaya bisa meneruskan ke Dinas Pariwisata,” jelas Tri Suyanto
Tri Suyanto menambahkan, keberadaan pertunjukan seni tradisional di SWK Semolowaru, dinilai bisa meramaikan pengunjung.
“Kita punya komunitas. Ketika mereka menikmati pertunjukkan seni tradisional, mereka juga akan menikmati makanan dan minuman disini. Sehingga terjadi simbiosis mutualisme,” pungkasnya.












