“Angka Covid masih tinggi, bahkan secara Nasional angka kematian akibat Covid di Jatim tertinggi. Belum lagi ekonomi masyarakat masih terpuruk. Lha ini kok ngomong Move On. Maksudnya apa? Move On nyerah tangani covid atau apa?, kelakar Hidayat.
Dari sisi ekonomi akibat pandemi covid-19 ini, banyak masyarakat yang perekonomiannya terpuruk hingga usahanya gulung tikar. Tak ayal, jumlah pengangguran juga semakin bertambah banyak akibat usaha yang dimiliki atau tempat bekerjanya tutup atau ada pengurangan karyawan untuk efisiensi perusahaan.
“Sektor UMKM yang seharusnya bisa menjadi penopang ekonomi Jatim, juga banyak yang gulung tikar. UMKM banyak yang menjerit akibat pandemi yang sudah berjalan hampir 2 tahun namun belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir,” jelas pria asli Mojokerto.
Belum lagi, lanjutnya relaksasi pinjaman lunak dari perbankan yang didengungkan baik bank nasional maupun bank lokal seperti Bank Jatim dan bank UMKM Jatim, juga banyak tidak menyentuh UMKM karena sosialisai yang kurang.
“Dengan kondisi semacam itu. Cukup rawan pernyataan Gubernur yang mengajak Move on. Pernyataan yang tidak tepat dikatakan dalam kondisi saat ini. Kuatir saya masyarakat akan menilai Gubernur nyerah dengan kondisi saat ini. Ini khan malah berbahaya,” dalihnya.
“Dalam hampir dua tahun ini kita alami tantangan yang luar biasa. Program vaksinasi untuk menuju herd imunity harus kita realiasikan. Maka pemimpin Jatim tidak boleh menggunakan bahasa yang bisa disalahpahami, akan sangat beresiko untuk masyarakat,” imbuhnya.



