“Contohnya untuk membatik. Sebelumnya kami memberikan pelatihan membatik di beberapa kelurahan. Nah, di Putat Jaya, mereka sangat cepat menguasainya lebih dari mereka yang sudah belajar lebih dulu. Goresan, desain dan warna batik yang mereka hasilkan sangat bagus. Harganya pun fantastis, selembar bisa 10 juta. Sementara lainnya masih di kisaran ratusan ribu,” sambung Nanis.
Mantan Kabag Humas ini menambahkan, tidak hanya berupa pelatihan, Pemkot juga melakukan pendampingan agar warga jadi lebih berdaya secara ekonomi. Semisal yang sudah berproduksi, dibantu untuk pemasaran produknya. Pemkot punya “etalase” untuk pemasaran produk seperti di Balai Kota Surabaya, Terminal Purabaya, Royal Plaza dan juga di sentra UKM Dinas Perdagangan dan Perindustrian. “Kami juga mengikutkan mereka ke pameran di luar kota maupun di luar pulau. Tentunya kami seleksi produk yang memang terbaik. Bagi yang belum bagus terus kami dorong,” sambung Nanis.
Hingg kini, Pemkot terus melanjutkan pendampingan dengan cara diarahkan untuk bergabung dalam program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilakukan Pemkot. Yakni Pahlawan Ekonomi yang lebih diarahkan untuk ibu rumah tangga dan Pejuang Muda bagi mereka yang berusia lebih muda.












