Menurut Ganis, inovasi-inovasi yang bisa dilahirkan di hutan pendidikan tersebut diharapkan bisa ikut bersaing dalam kancah internasional. Sebagai gambaran, beberapa produk yang diharapkan muncul dari inovasi para mahasiswa tersebut adalah produk kosmetik, produk herbal, dan lainnya.
“Jika hanya untuk diseduh, barangkali itu tidak akan sulit. Unggulan kami memang kopi, tapi bukan berarti kami akan membuka kafe, akan tetapi untuk hilirisasi produk yang memiliki nilai tambah tinggi,” kata Ganis.
Ganis menambahkan, dalam pengelolaan budi daya kopi tersebut, pihak UB Forest menggandeng warga yang tinggal di sekitar maupun yang ada di dalam kawasan hutan pendidikan tersebut. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan geliat perekonomian masyarakat sekitar.
Wakil Direktur UB Forest Universitas Brawijya Budi Sugiarto menambahkan, dalam pengelolaan kopi di hutan pendidikan tersebut melibatkan kurang lebih 800 petani yang merupakan warga sekitar, baik yang tinggal di luar area hutan, maupun yang di dalam kawasan.
“Satu petani diberikan lahan pengelolaan seluas 2,5 hektare. Saat ini, kami lakukan pemetaan kembali dengan menertibkan kepemilikan formal warga yang tinggal di luar area hutan,” kata Budi.












