Akibatnya, lanjut dia, banyak aliran air hujan sesuai dengan sifatnya yang seharusnya mengalir terbuang ke sungai, waduk atau ke laut menjadi terhenti oleh saluran pematusan yang tidak dipotret dengan ilmu topografi.
Apalagi, lanjut dia, jika di tempat-tempat yang sering terjadi genangan air hujan tidak tersedia pompa air untuk membuang air ke saluran primer seperti sungai, waduk atau ke laut.
Selain itu, lanjut dia, permukaan jalan raya di Kota Surabaya pada umumnya rata, tidak sesuai dengan standar kemiringan sehingga terdapat genangan air dimana-mana pada saat hujan.
Akibatnya jalan beraspal cepat rusak dan berlobang karena air hujan atau genangan air di permukaan jalan tidak bisa mengalir ke tepi jalan. “Mestinya air itu bisa masuk ke dalam pematusan dan mengalir ke saluran primer, waduk dan laut.
Ia menilai campur aduk antara manajemen pematusan dan pengairan dalam pengelolaan air. Pematusan adalah pengelolaan air agar cepat terbuang ke sungai, tempat resapan di waduk atau tempat penampungan air atau bisa langsung terbuang ke laut.
Sistem pematusan ini umumnya ada di perkotaan yang fungsinya membuang air dari saluran kecil tersier ke sekunder dan terakhir ke saluran primer. Sebaliknya pengairan dari saluran primer (sungai), ke sekunder kemudian ke saluran tersier yaitu ke sawah-sawah yang membutuhkan pengairan.












