Surabaya, CakrawalaNews.co – Tak sekadar memberi instruksi dari balik meja, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, turun langsung ke lapangan sambil membawa papan tulis. Dalam inspeksi mendadak (sidak) di kawasan Jalan Ketintang Madya, Jumat (24/4/2026) pagi, ia memaparkan secara langsung skema besar penanganan banjir kepada jajaran teknis dan perangkat wilayah.
Di hadapan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), camat, hingga lurah dari tiga kecamatan, Eri menggambar alur air dan menjelaskan titik-titik krusial yang selama ini menjadi sumber persoalan. Ia menegaskan, penanganan banjir tidak bisa lagi dilakukan secara parsial.
“Selama ini air menumpuk di Margorejo. Saya instruksikan agar aliran air dari arah Karah dan tol dipotong langsung masuk ke Rumah Pompa SWK Karah. Jangan semuanya lari ke Saluran Avur Wonorejo yang lewat Ketintang,” tegasnya.
Menurut Eri, kawasan Margorejo selama ini menjadi titik tumpu dari berbagai kiriman air, mulai dari Jambangan hingga Karah. Karena itu, pendekatan yang diambil kini adalah penataan ulang wilayah tangkapan air (catchment area), bukan sekadar pengerukan saluran.
Selain itu, Pemkot juga merancang pembalikan arah aliran dari Ketintang Baru agar air dapat dialirkan kembali ke saluran Kebon Agung melalui kawasan Central Park Ahmad Yani hingga Mang Kabayan. Skema ini diharapkan mampu mengurangi beban saluran di Margorejo hingga Prapen, sehingga hanya menampung air dari kawasan permukiman sekitar.
Untuk mengamankan titik rawan genangan seperti Royal Plaza dan Kantor Telkom Ketintang, Pemkot Surabaya juga berencana membangun rumah pompa baru di bantaran Kali Surabaya, tepatnya di kawasan Pulo Wonokromo. Eri mengaku telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) terkait rencana tersebut.
“Saya sudah minta izin untuk menggunakan lahan sekitar tiga sampai empat rumah warga. Tujuannya supaya air dari area Telkom dan rel kereta bisa langsung ditarik ke sungai, sehingga tidak terjadi genangan,” ujarnya.
Penataan ini juga mencakup pelebaran saluran di kawasan Prapen serta optimalisasi konektivitas antar-saluran. Tak hanya itu, Eri mendorong pembangunan sistem berbasis aplikasi digital untuk memetakan aliran air secara menyeluruh.
Ia menilai, sistem ini penting agar ke depan siapa pun pemimpinnya tetap dapat memantau pola aliran air secara terukur dan berkelanjutan. Bahkan, peta digital catchment area tersebut direncanakan dapat diakses publik.
“Kita ubah pemikirannya. Tidak bisa hanya keruk-keruk tanpa hitungan. Sekarang semua harus terkoneksi dan terukur efektivitasnya,” tandasnya.
Eri menargetkan seluruh skema pengalihan aliran air ini dapat rampung pada Oktober 2026. Ia pun memberi peringatan tegas kepada jajarannya.
“Kalau Oktober belum selesai dan masih banjir, akan ada evaluasi serius. Saya ingin ini bukan sekadar proyek fisik, tapi sistem yang benar-benar bekerja,” tegasnya.
Dalam sidak tersebut, Eri juga mengumpulkan camat dan lurah dari Kecamatan Gayungan, Jambangan, dan Wonocolo untuk memastikan pengawasan berjalan terpadu di lapangan.
Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan bahwa secara teknis pihaknya akan melakukan pengalihan arus air untuk memecah beban yang selama ini terpusat di sisi timur.
“Problem utamanya beban air dari barat atau kawasan tol semuanya lari ke Wonorejo. Ini yang akan kita pecah dengan membuat sodetan langsung ke arah selatan menuju Sungai Kebon Agung,” jelasnya.
Menurut Adi, langkah ini penting karena kapasitas saluran di hilir, khususnya menuju Prapen, semakin terbatas. Dengan skema pembagian aliran, beban air di sejumlah titik rawan seperti Ketintang, Karah, hingga Gayungsari diharapkan bisa berkurang signifikan.
“Kalau beban air kita bagi, tidak semuanya lari ke hilir. Ini yang kita kejar supaya genangan bisa ditekan,” pungkasnya.












