Menurutnya, Surabaya menjadi kota yang kondusif untuk berinvestasi. Terbukti, tiap tahun jumlah pengusaha kafe dan restoran terus mengalami kenaikan. Dari 2017 ke 2018, tercatat 20 persen pertumbuhan pengusaha kuliner. Mereka hadir dengan banyak inovasi, terutama menu yang disajikan dan interior kafe yang unik.
“Masyarakat di Surabaya sangat apresiatif dengan usaha baru yang muncul. Jika ada kafe atau restoran yang baru buka, mayoritas pasti akan ramai,” kata dia.
Gaya hidup modern dan aktif di jejaring sosial juga menjadi salah satu faktor usaha yang berkembang. Lewat media social, promosi bisa dilakukan dengan tepat dan cepat.
Hal lain yang membuat bisnis terus tumbuh di Surabaya adalah faktor infrastruktur. Tjahjono mengakui bahwa Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia memiliki infrastruktur yang mumpuni. Terlebih, pemerintah kota juga sangat kooperatif dengan mempermudah perizinan pendirian usaha baru.
Nanis mengamini hal tersebut. Dia mengungkapkan bahwa perizinan terhadap usaha baru juga terus dipermudah. Tentu saja, hal itu demi menarik investor dalam dan luar negeri untuk menanamkan modal di Surabaya.
Hingga kini, beberapa negara juga memercayakan Surabaya sebagai tujuan investasinya. Diantaranya, Tiongkok, Vietnam, dan Inggris.(advetorial)












