“Bahkan ada petani garam yang terpaksa memanen garamnya setelah lima hari daripada terkena hujan yang menyebabkan petani garam merugi, sehingga pilihannya ya beralih ke budi daya ikan,” tuturnya.
Ia mengaku juga pernah mengalami gagal panen karena lahannya terdampak hujan yang turun secara tiba-tiba karena saat garamnya berusia empat hari dan rencananya akan dipanen pada hari kelima, namun hujan mengguyur pada malam hari, sehingga lahan yang siap panen akhirnya gagal panen.
“Dua petak garam saya gagal panen karena hujan yang turun secara tiba-tiba, padahal kalau panen minimal bisa mendapat 2 ton dari lahan garam tersebut,” katanya.
Dengan harga garam sekitar Rp900 per kilogram, maka kerugian yang dialami Buhar sekitar Rp1,8 juta dan hal tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para petani garam lainnya.












