Temuan ini memperlihatkan bahwa pendekatan imunonutrisi berpotensi menjadi salah satu strategi untuk menjaga kesehatan ternak tanpa semata-mata bergantung pada pengobatan ketika penyakit sudah muncul.
“Pendekatan usang ‘ternak sakit-diagnosis – obat sembuh harus segera bertransformasi menjadi pendekatan yang lebih preventif,” tegasnya.
Bagi Prof Rochmah, inovasi imunonutrisi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produktivitas peternakan.
Pendekatan ini juga memiliki kaitan erat dengan konsep One Health yang menempatkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan sebagai satu kesatuan.
Ternak yang sehat memungkinkan produksi pangan berlangsung lebih efisien dan berkelanjutan. Sebaliknya, jika kesehatan hewan diabaikan, ketahanan pangan nasional akan menghadapi tantangan yang lebih besar.
Meski hasil penelitian tepung biji mahoni menunjukkan potensi menjanjikan, ia menegaskan masih diperlukan penelitian lanjutan.
Mulai dari identifikasi dan standardisasi senyawa bioaktif, penentuan dosis yang tepat, kajian farmakokinetika, pengujian keamanan jangka panjang, hingga validasi pada industri peternakan komersial dengan skala lebih luas.
“Ke depannya, riset mengenai imunonutrisi ini harus terus diakselerasi. Kita membutuhkan identifikasi dan standarisasi senyawa bioaktif, penentuan dosis yang presisi, kajian farmakokinetika, uji keamanan jangka panjang, hingga validasi pada skala industri peternakan komersial yang lebih luas,” tekannya.
Ia menilai, pengeluaran untuk menjaga kesehatan ternak seharusnya tidak dipandang sebagai beban biaya semata.
Sebaliknya, langkah tersebut merupakan investasi untuk menjaga produktivitas peternakan, kesejahteraan hewan, sekaligus keamanan pangan masyarakat.
“Farmakologi veteriner masa depan bukan hanya ilmu tentang bagaimana mengobati ternak ketika sakit, tetapi juga tentang bagaimana menjaga sistem biologis ternak tetap sehat, adaptif, dan produktif,” pungkasnya. (*)






