Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ITS itu menilai, perhitungan kebutuhan air untuk data center tidak cukup hanya mengacu pada rata-rata ketersediaan pasokan tahunan.
Pemerintah juga harus memperhitungkan fluktuasi ketersediaan air, khususnya saat musim kemarau ketika kebutuhan masyarakat cenderung meningkat.
Kondisi di Pulau Jawa bahkan sudah menunjukkan sinyal kerawanan.
Rasio antara kebutuhan dan ketersediaan air di wilayah ini disebut telah mendekati angka 0,4.
“Adapun rasio kebutuhan terhadap ketersediaan air di Pulau Jawa telah mendekati 0,4 yang menandakan kondisi rawan krisis air,” ungkapnya.
Angka tersebut menjadi peringatan bahwa penambahan kebutuhan air untuk operasional data center tidak bisa dilakukan tanpa mempertimbangkan sektor lain yang juga membutuhkan pasokan serupa.
Alumnus doktoral University of Newcastle, Inggris, tersebut menambahkan, ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan air dapat berujung pada persoalan yang langsung dirasakan masyarakat.
Sebab, ketersediaan air secara nominal belum tentu mencerminkan jumlah air yang benar-benar bisa dimanfaatkan.
Terlebih ketika pasokan mengalami penurunan pada musim kemarau, sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi.
Ancaman pembangunan data center AI ternyata tidak berhenti pada persoalan air.








