Konsumen nantinya dapat menelusuri asal kopi hingga petaninya, sekaligus memberikan bentuk apresiasi secara langsung.
“Jadi nanti ketika mereka minum, ada scan barcode-nya yang di mana nanti itu penelusuran dari petani-petani kopi, nah nanti para peminum kopi bisa memberikan bentuk apresiasi atau fee yang bisa nanti diberikan langsung direct ke petani,” jelas Aryasetya.
Di balik gagasan tersebut, ada proses panjang yang tidak selesai dalam semalam.
Aryasetya bersama 7 orang membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk melakukan brainstorming, mengembangkan konsep, hingga akhirnya meluncurkan aplikasi tersebut.
Menariknya, ide Qting-X juga berkaitan dengan kebutuhan pasar Eropa terhadap penelusuran produk.
Aryasetya menjelaskan bahwa konsep tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang berkaitan dengan penelusuran komoditas.
“Jadi memang aplikasi ini pun awalnya enggak sembarangan karena ini adalah peraturan dari regulasi di Eropa tersebut. Jadi ada peraturan namanya EUDR (European Regulation Deforestation),” katanya.
Tantangan lain justru datang dari sisi petani. Tidak semua petani terbiasa menggunakan teknologi digital.
Karena itu, tim Aryasetya tidak hanya membuat aplikasi, tetapi juga turun memberikan pendampingan agar petani mampu mencatat ketersediaan produk dan memasukkan data ke dalam sistem.
“Kita melihat juga keterbatasan artinya para petani mungkin agak-agak gaptek (gagap teknologi) gitu ya. Jadi kita juga punya beberapa tim khusus ketika kita ada kegiatan, mereka harus bisa mentraining petani untuk bisa memberikan stock map produk di aplikasi, itu sih,” ungkapnya.
Bagi Aryasetya, perjalanan dari bangku kuliah UC Surabaya menuju dunia bisnis ternyata tidak hanya soal membangun sebuah usaha.
Ada persoalan yang lebih besar yang ingin ia jawab yaitu bagaimana teknologi dapat membuka jalan agar produk petani lokal memiliki nilai dan jangkauan yang lebih luas.
Dari kopi yang tumbuh di tanah Indonesia, ia mencoba membangun jembatan menuju meja-meja konsumen di berbagai belahan dunia.



