Bagi Aryasetya, transparansi tersebut juga diharapkan memberi manfaat langsung kepada petani.
Mereka tidak hanya mendapatkan akses pasar, tetapi juga memiliki kepastian mengenai pembelian dan harga jual.
“Dan tentunya buyer pun bisa mendapatkan penelusuran yang jelas, dan juga dari sisi petani bisa mendapatkan kepastian pembelian dan juga kepastian harga jual karena masih sangat minim untuk petani lokal di sini. Dan itu tujuan utamanya untuk membuat petani bisa naik kelas,” tutur Pria kelahiran Jakarta ini.
Gagasan itu perlahan bergerak dari konsep menjadi praktik.
Saat ini, Aryasetya menyebut sudah ada sekitar 50 petani kopi dari berbagai wilayah Indonesia yang terdaftar dalam platform tersebut. Sejumlah transaksi pun telah dilakukan untuk pasar luar negeri.
“Sekarang kurang lebih ada 50 petani di seluruh Indonesia yang sudah kami daftarkan dan juga kami juga sudah melakukan beberapa transaksi,” ujarnya.
Aryasetya menyebut 50 petani Indonesia yang memiliki produk unggulan kopi berasal dari dari Aceh Gayo, NTT, Sumatera dan Jawa.
Perjalanan tersebut bahkan telah membawa kopi Indonesia menuju pasar Eropa dan Uni Emirat Arab (UEA).
Aryasetya menyebut pihaknya telah mengirim lima kontainer kopi ke Eropa serta satu kontainer ke UEA.
Jika dihitung berdasarkan nilai rata-rata per kontainer yang disebutkannya sekitar Rp1,5 miliar, transaksi tersebut menunjukkan bahwa produk kopi dari petani lokal memiliki peluang untuk bergerak jauh melampaui pasar domestik.
Namun, Aryasetya tidak ingin Qting-X berhenti sebagai platform transaksi.
Ia membayangkan konsumen di luar negeri juga dapat terhubung langsung dengan cerita di balik secangkir kopi yang mereka nikmati.
Salah satunya melalui fitur pemindaian barcode.



