“Miras, pembuatan konten-konten ekstrem, termasuk juga dia ikut-ikutan gangster, itu biasanya mereka hanya ikut-ikutan dan tidak tahu,” jelasnya.
Untuk mencegah perilaku serupa terulang, Satpol PP melibatkan keluarga dan sekolah dalam pembinaan.
Orang tua anak yang terjangkau petugas akan dipanggil. Pengurus RT/RW dan guru juga diajak mencari tahu latar belakang perilaku anak tersebut.
“Termasuk anak yang kena (penjangkauan karena) miras kita sampaikan, orang tuanya kita panggil. Kalau kena lagi, Pak RT, Pak RW kita panggil, termasuk guru sekolah. Dari sekolah kita panggil untuk mengetahui,” tuturnya.
Irna turut mengingatkan orang tua dan guru agar lebih memperhatikan perubahan perilaku maupun penampilan anak.
Sebab, menurutnya, sebagian remaja mengikuti tren tanpa memahami tujuan atau konsekuensinya.
“Bahkan mohon maaf, termasuk penggunaan tindik atau matanya yang dikasih hitam, sering kita jangkau saya tanya untuk apa tujuannya, mereka tidak tahu, mereka hanya ikut-ikutan,” ujar dia.
Karena itu, Irna meminta keluarga, sekolah, dan masyarakat tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab pengawasan kepada pemerintah.
Kepedulian bersama dinilai penting agar anak-anak tidak mudah terbawa pengaruh pergaulan yang berisiko.



