Ia juga menilai perlu ada protokol kegawatdaruratan yang jelas.
Alur penanganan dari lokasi kejadian menuju fasilitas kesehatan harus terintegrasi, termasuk koordinasi antara ambulans, PMI, BPBD dan layanan darurat 112.
Upaya pencegahan juga diminta menyentuh lingkungan sekolah dan tingkat RW.
Edukasi mengenai bahaya paparan panas perlu diberikan terutama kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia serta warga dengan penyakit kronis, termasuk mengenai langkah pencegahan dan tanda-tanda kondisi yang membutuhkan pertolongan medis.
Tak kalah penting, Michael mendorong Pemkot memetakan titik-titik panas sekaligus menyediakan ruang teduh.
Kawasan padat bangunan dan minim vegetasi perlu menjadi perhatian, dengan mempertimbangkan tingkat paparan panas, keberadaan kelompok rentan serta akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan.
Menurutnya, seluruh langkah tersebut membutuhkan dukungan anggaran yang jelas. Program pencegahan heat stroke diharapkan masuk dalam perencanaan APBD, termasuk untuk edukasi masyarakat, alat pemantauan, penyediaan air minum, ruang teduh dan penguatan kesiapan pelayanan medis.
Michael juga meminta agar program penanganan dampak panas tidak berhenti pada kebijakan dan seremonial.
Pemerintah perlu memiliki indikator evaluasi yang dapat diukur secara berkala.







