“Jadi anggarannya itu untuk anggaran produktif, bukan untuk anggaran event yang sekali dua kali, tapi ini untuk anggaran produktif,” tegas politikus PKS tersebut.
Sejumlah kegiatan yang dapat dikembangkan antara lain usaha angkringan, jasa fotografi dan promosi produk melalui media sosial, hingga budidaya ikan lele.
Cahyo menilai rendahnya serapan tak lepas dari kendala administrasi.
Pengurus Karang Taruna yang masih muda belum tentu terbiasa menyusun pengajuan anggaran, menyesuaikan standar harga, hingga menyiapkan surat pertanggungjawaban (SPJ).
Karena itu, RT, RW, lurah, dan camat diminta aktif membantu pemuda memahami prosedur, bukan hanya mengoreksi atau menolak berkas yang belum lengkap.
“Intinya harus ketemu, problemnya apa, yang bisa dibantu apa, yang bisa dioptimalkan apa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan program tak cukup diukur dari serapan anggaran dan kelengkapan SPJ.













