Cakrawala Pendidikan

Wacana Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas, Isa Ansori Ingatkan Dampak Psikologis Anak

×

Wacana Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas, Isa Ansori Ingatkan Dampak Psikologis Anak

Sebarkan artikel ini
Wacana tidak naik kelas
Ilustrasi wacana siswa tidak otomatis naik kelas.

“Tentu, bukan berarti semua anak harus otomatis naik kelas. Penguasaan kompetensi tetap harus menjadi pertimbangan. Tetapi, keputusan itu harus disertai evaluasi yang adil, pendampingan belajar, pembelajaran remedial, dan komunikasi yang baik dengan orang tua,” jelasnya.

Ia juga mendorong sekolah memberi ruang kepada siswa untuk bertanya, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan mencoba kembali.

Kegagalan dalam proses belajar semestinya tidak langsung menutup kesempatan anak untuk berkembang.

“Sebab, kita semua pernah belajar melalui kesalahan. Tidak masuk akal jika anak justru kehilangan kesempatan untuk berkembang hanya karena hari ini belum mampu mencapai sesuatu yang kita harapkan,” ujarnya.

Bagi Isa, disiplin dan pencapaian akademik tetap diperlukan.

Namun, penerapannya harus berjalan bersama dukungan agar anak dapat belajar bertanggung jawab tanpa kehilangan semangat dan kepercayaan diri.

“Jangan sampai kita begitu sibuk menilai kegagalan anak, sampai lupa mengevaluasi cara kita mendidiknya,” tegas Pengajar dan Praktisi transaksional analisis serta Wakil Ketua ICMI Jawa Timur itu.

Ia menilai sekolah semestinya membantu siswa menghadapi kegagalan, bukan membuat mereka kehilangan harapan.

“Sebab, sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar menghadapi kegagalan, bukan tempat mereka kehilangan harapan. Pendidikan bukan perlombaan untuk menyingkirkan mereka yang tertinggal, melainkan ikhtiar untuk membantu setiap anak menemukan dan mengembangkan kemampuannya,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *