“Namun, ada pertanyaan yang mengusik saya: sebelum memutuskan seorang anak belum layak naik kelas, sudahkah kita memastikan bahwa sekolah telah memberikan kesempatan, cara belajar, dan pendampingan yang cukup baginya?” ujarnya.
Isa menegaskan, kemampuan setiap anak berbeda. Ada siswa yang cepat memahami pelajaran, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang.
Kondisi keluarga dan lingkungan juga dapat memengaruhi konsentrasi serta perkembangan belajar.
“Anak bukan mesin yang bisa belajar dengan kecepatan yang sama,” katanya.
Menurutnya, sekolah perlu mencari tahu penyebab siswa belum mencapai kompetensi yang diharapkan.
Evaluasi dapat mencakup kesesuaian metode pembelajaran, kecukupan pendampingan, hingga persoalan keluarga atau lingkungan yang menghambat proses belajar.
Isa khawatir, kebijakan tidak naik kelas yang hanya digunakan sebagai alat penegakan disiplin justru membuat sekolah luput memperbaiki cara mengajar.
“Anak menanggung akibatnya, sementara kita tidak sungguh-sungguh memeriksa apa yang perlu diperbaiki dari cara sekolah mendidiknya,” ungkapnya.
Meski mengingatkan dampak psikologisnya, Isa tidak menilai semua siswa harus otomatis naik kelas.
Penguasaan kompetensi tetap penting, tetapi keputusan harus diambil melalui evaluasi yang adil dan disertai langkah perbaikan.






