Surabaya, CakrawalaNews.co – Wacana pemberlakuan kembali kebijakan tidak naik kelas di sekolah menuai perhatian dari Pengamat Pendidikan M. Isa Ansori.
Ia mengingatkan, kebijakan pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai dan disiplin, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi psikologis serta proses belajar setiap anak.
Isa Ansori menilai, keputusan seorang siswa untuk tidak naik kelas bukan perkara sederhana. Di balik status tersebut, terdapat kemungkinan munculnya rasa malu, kecewa hingga hilangnya kepercayaan diri pada anak.
“Ada kegelisahan yang muncul setiap kali kita membicarakan anak yang tidak naik kelas. Saya membayangkan seorang anak pulang ke rumah dengan membawa kabar bahwa teman-temannya naik kelas, sementara dirinya harus tinggal,” kata Isa Ansori dalam pandangannya, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, pengalaman tidak naik kelas bisa memberikan dampak berbeda pada setiap anak. Ada yang mampu menjadikannya sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, tetapi ada pula yang justru merasa dirinya tidak cukup pintar dan tidak mampu mengikuti teman-temannya.
Karena itu, Isa menilai wacana tidak naik kelas harus dibahas dalam kerangka tujuan pendidikan yang lebih luas. Menurut dia, disiplin, tanggung jawab belajar dan pencapaian kompetensi memang penting, tetapi sekolah juga harus memastikan bahwa siswa telah memperoleh kesempatan belajar dan pendampingan yang memadai.
“Namun, ada pertanyaan yang mengusik saya: sebelum memutuskan seorang anak belum layak naik kelas, sudahkah kita memastikan bahwa sekolah telah memberikan kesempatan, cara belajar, dan pendampingan yang cukup baginya?” ujarnya.
Ia bahkan mengingatkan agar sekolah tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa persoalan terletak pada anak. Sebab, ketika seorang siswa kesulitan mencapai kompetensi tertentu, proses pembelajaran yang diterapkan sekolah juga semestinya ikut dievaluasi.
“Jangan-jangan kita terlalu cepat menilai kegagalan anak, sementara kita belum cukup berani mengevaluasi proses pendidikan yang dijalaninya,” tegasnya.
Isa kemudian mengaitkan pandangannya dengan gagasan Sekolah Bahagia yang dikembangkan bersama Koalisi Pegiat Pendidikan Ramah Anak Indonesia.
Menurutnya, sekolah bahagia bukan berarti sekolah yang menghilangkan aturan maupun membebaskan siswa belajar tanpa tanggung jawab.
Sebaliknya, disiplin dan standar kompetensi tetap harus dijaga. Namun, penerapannya harus dilakukan dengan pendekatan yang mendidik, bukan dengan cara yang membuat anak takut, merasa rendah diri atau kehilangan semangat belajar.



