Ia juga mendorong agar guru melihat siswa tidak sebatas dari angka di rapor. Proses perkembangan, usaha dan perubahan kemampuan anak harus menjadi bagian dari penilaian.
Sekolah, lanjutnya, juga harus memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya, melakukan kesalahan, memperbaiki diri dan mencoba kembali. Sebab, kegagalan dalam proses belajar seharusnya tidak otomatis menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan untuk berkembang.
“Sebab, kita semua pernah belajar melalui kesalahan. Tidak masuk akal jika anak justru kehilangan kesempatan untuk berkembang hanya karena hari ini belum mampu mencapai sesuatu yang kita harapkan,” ujarnya.
Menurut Isa, pendidikan tetap harus memberikan tantangan agar anak berkembang. Namun, tantangan tersebut harus berjalan beriringan dengan dukungan.
Anak perlu belajar bertanggung jawab, tetapi juga harus mengetahui bahwa ketika mengalami kesulitan, ada orang dewasa yang siap membantu.
Karena itu, Isa menilai keberhasilan sekolah tidak seharusnya hanya diukur dari berapa banyak siswa yang berhasil naik kelas. Ukuran yang lebih penting adalah perkembangan kemampuan, kemandirian, tanggung jawab dan kepercayaan diri siswa dalam menghadapi masa depan.
“Inilah semangat Sekolah Bahagia yang ingin kami perjuangkan bersama Koalisi Pegiat Pendidikan Ramah Anak Indonesia. Kami tidak ingin anak dimanjakan, tetapi juga tidak ingin mereka dididik dengan rasa takut,” tuturnya.
Ia menegaskan, disiplin dan prestasi tetap penting dalam pendidikan. Namun, keduanya harus dibangun bersama penghargaan terhadap martabat anak.
“Jangan sampai kita begitu sibuk menilai kegagalan anak, sampai lupa mengevaluasi cara kita mendidiknya,” tegas Pengajar dan Praktisi transaksional analisis serta Wakil Ketua ICMI Jawa Timur itu.
Menurutnya, sekolah semestinya menjadi ruang bagi anak untuk belajar menghadapi kegagalan, bukan tempat yang membuat mereka kehilangan harapan.
“Sebab, sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar menghadapi kegagalan, bukan tempat mereka kehilangan harapan. Pendidikan bukan perlombaan untuk menyingkirkan mereka yang tertinggal, melainkan ikhtiar untuk membantu setiap anak menemukan dan mengembangkan kemampuannya,” pungkasnya. (*)



