Proses pembinaan juga tidak berhenti setelah sebuah tim menjadi juara.
Pelatih melakukan evaluasi untuk melihat bagian yang masih perlu diperbaiki sebelum pemain menghadapi level kompetisi berikutnya.
Pelatih Persebaya U-15, Slamet Mujiono, menyebut timnya sudah menjalani persiapan selama berbulan-bulan sebelum meraih gelar Jawa Timur.
“Persiapan kami berlangsung sekitar enam sampai sembilan bulan. Dalam waktu sepekan setelah kompetisi ini, kami manfaatkan untuk melakukan evaluasi terhadap kekurangan yang masih ada,” kata Slamet.
Sementara itu, Pelatih Persebaya U-17 Yongky Kastanya juga langsung menyiapkan tim menghadapi kompetisi nasional setelah menjadi juara Jawa Timur.
“Meskipun harus bermain di luar Surabaya, mereka mampu menunjukkan permainan dan mental yang baik. Setelah menjadi juara Jawa Timur, kami langsung melakukan evaluasi untuk mempersiapkan diri menghadapi tingkat nasional,” ujar Yongky.
Bagi Saleh, keberhasilan menghasilkan pemain tidak cukup hanya dengan membawa mereka naik ke tim senior.
Jalur pembinaan harus terus berjalan agar pemain dari kompetisi internal memiliki kesempatan berkembang secara bertahap.
“Kami berharap jalur pembinaan ini terus berjalan sehingga pemain-pemain hasil kompetisi internal bisa berkembang secara bertahap sampai ke level profesional,” tutur Saleh.
Jalur tersebut kini terus diuji lewat regenerasi.
Dari kompetisi internal, Piala Soeratin, EPA, hingga tim senior, Persebaya berupaya menjaga agar pemain muda memiliki jalur yang jelas untuk berkembang.
Program Persebaya Challenger juga menjadi salah satu bentuk terbaru pemantauan pemain internal sebelum mereka masuk Elite Youth dan menuju tim utama. (*)













