Realisasi pupuk NPK tercatat paling tinggi, yakni 76,21 persen dari alokasi 961,69 ribu ton. Sementara Urea yang memiliki alokasi 999,18 ribu ton baru tersalur 72,96 persen.
Renny mengatakan sisa alokasi tidak serta-merta menunjukkan adanya kelangkaan atau kegagalan distribusi karena serapan dapat dipengaruhi kalender tanam, kebutuhan wilayah, kemampuan penebusan petani, dan persoalan administrasi.
“Pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa persen pupuk telah tersalur, tetapi mengapa masih terdapat alokasi yang belum tersalur dan di mana posisi pupuk tersebut,” ujarnya.



