Cakrawala Surabaya

Nasi dan Melati Terbit Kembali, Buka Jejak Sastra Rakyat yang Lama Terputus

×

Nasi dan Melati Terbit Kembali, Buka Jejak Sastra Rakyat yang Lama Terputus

Sebarkan artikel ini
Lekra
Ilustrasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Surabaja. (instagram: penerbitgangguan)

Pengunjung juga bisa mengikuti pembacaan puisi dan cerita pendek, monolog, musik puisi, panggung terbuka, diskusi publik, hingga pertunjukan warga.

Pada pembukaan, Rabu 23 September 2026 pukul 16.00-21.00 WIB, agenda diisi pembukaan pameran arsip, tur kuratorial, pembacaan puisi dan cerita pendek, jamuan Nasi dan Melati, serta perbincangan mengenai antologi tersebut.

Kemudian Sabtu 26 September 2026 pukul 14.00-18.00 WIB, digelar Performance Lecture “Menghidupkan Kembali Kesusastraan Rakyat” dan bincang-baca buku sastra Indonesia. Agenda tersebut juga menghadirkan pembacaan karya yang dikurasi Kementerian Kebudayaan.

Rangkaian ditutup pada Rabu 30 September 2026 pukul 15.00-22.00 WIB. Kegiatannya meliputi pentas warga, pengenalan proyek Rombong Mantra Urban, monolog cerita pendek, panggung puisi terbuka, dan musik puisi.

Program Rombong Mantra Urban menjadi penghubung antara arsip sastra masa lalu dengan cerita warga masa kini.

Proyek tersebut diarahkan untuk mendokumentasikan kisah masyarakat Kelurahan Genteng, Surabaya, termasuk cerita yang berkaitan dengan kepercayaan dan kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat tinggal.

Kurator pameran Alfian Widi menilai program tersebut juga bisa menjadi pintu bagi generasi muda untuk memahami rasa keterputusan dengan sejarah kebudayaan Indonesia.

“Tentunya, agenda ini bisa disebut sebagai upaya untuk memahami rasa keterasingan sejarah yang kita semua rasakan sebagai bagian integral bangsa Indonesia. Saya berharap bahwa upaya ini bisa menjadi titik berangkat kawula muda untuk kembali memikirkan tentang arah kebudayaan Indonesia setelah sekian dekade disukabumikan dalam gejolak politik sekaligus malapetaka 1965,” jelas Alfian Widi.

Dengan begitu, Nasi dan Melati tidak berhenti sebagai buku lama yang dicetak ulang.

Karya tersebut ditempatkan sebagai pintu untuk membaca kembali pengalaman masyarakat, gagasan kebudayaan, dan perdebatan mengenai keindonesiaan dari sudut yang sempat jauh dari pembaca.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *