Cakrawala Surabaya

Nasi dan Melati Terbit Kembali, Buka Jejak Sastra Rakyat yang Lama Terputus

×

Nasi dan Melati Terbit Kembali, Buka Jejak Sastra Rakyat yang Lama Terputus

Sebarkan artikel ini
Lekra
Ilustrasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Surabaja. (instagram: penerbitgangguan)

Penerbitan ulang buku ini dikerjakan melalui proses pengumpulan dan rekonstruksi selama sekitar dua tahun oleh tim Penerbit Gangguan.

Tim program Anugrah Yulianto mengatakan penerbitan ulang tersebut tidak berhenti pada upaya menyelamatkan artefak sastra.

“Pameran dan Penerbitan manuskrip “Nasi dan Melati” tidak hanya suatu penghidupan kembali artefak sastra Indonesia yang telah hilang karena peristiwa keterputusan narasi kebudayaan sejak 1965-66, melainkan ini juga merupakan salah satu aktivasi awal untuk melakukan diseminasi karya sastra yang perlu dibaca di masa sekarang,” ungkap Anugrah Yulianto di keterangan resminya, Sabtu, 19 September 2026.

Penerbitan ulang juga disandingkan dengan pameran arsip Lekra Surabaya.

Organisasi kebudayaan tersebut menjadi bagian dari sejarah perkembangan sastra Indonesia modern, meski pembacaannya hingga kini kerap berlangsung secara parsial.

Tim editorial penerbitan, Alya Putri, menyebut program ini sebagai upaya mengajak publik melihat kembali bagaimana gagasan tentang identitas nasional pernah dibentuk oleh generasi setelah kemerdekaan.

“Penerbitan manuskrip Nasi dan Melati serta pameran arsip Lekra Surabaya ini dibuat untuk mengajak publik menengok kembali semangat generasi terdahulu dalam memproyeksikan “identitas nasional” Indonesia,” jelasnya.

“Barang tentu tidak sedikit yang akan merasa asing, sebab dokumentasi kerja-kerja ini lahir dari rahim generasi pasca merdeka yang riwayatnya hilang dan putus akibat genosida ’65. Oleh karena itu pula kami menganggap upaya ini penting sebagai usaha merebut kembali hak publik atas sejarah kebudayaannya sendiri,” imbuhnya.

Menurut Alya, ruang tersebut diharapkan bisa membantu pembaca masa kini melihat kembali proses terbentuknya keindonesiaan sekaligus memikirkan arah kebudayaan setelah perjalanan sejarah yang panjang.

“Melalui ruang ini, kami berharap dapat memunculkan pembayangan yang lebih dekat dan jelas kepada publik hari ini perihal bagaimana keindonesiaan dibangun pada mulanya. Semoga upaya ini juga dapat menjadi pemantik sekaligus titik berangkat untuk merenungkan kembali ke mana arah kebudayaan kita hari ini,” tutup Alya.

Rangkaian program tidak hanya berupa pameran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *