Survei tersebut mencatat Patahan Surabaya bergerak dan terdorong sekitar 4 sentimeter per tahun.
Sementara Patahan Waru disebut bergerak sekitar 3 sentimeter per tahun.
Pergerakan kedua patahan juga dikaitkan dengan gempa-gempa berskala mikro dengan magnitudo 1 hingga 3.
Getaran pada skala tersebut sangat kecil dan sering kali tidak dirasakan masyarakat.
Untuk mengetahui perkembangan pergerakan tersebut, pemantauan secara terus-menerus dinilai penting.
Sejumlah alat pendeteksi dan pencatat getaran gempa, yang disebut seismograf, direncanakan dipasang di sejumlah titik di sekitar patahan dan wilayah Kota Surabaya.
Alat tersebut bekerja untuk merekam getaran atau gelombang yang muncul akibat aktivitas di dalam bumi.
Data yang terkumpul dapat digunakan untuk melihat aktivitas gempa dan membantu pemantauan pergerakan sesar dari waktu ke waktu.













