Salah satu infrastruktur yang menjadi perhatian adalah reservoir.
“Saya akan meminta nanti mengenai kita bikin IPAM, apakah nanti dikembangkan atau kita di Ngagel. Yang kita lakukan, pipa langsung menuju ke Zona 3. Pertama, namanya Tampak Gudi, itu reservoir,” ungkapnya.
Menurut Tias, persoalan tekanan air di Surabaya Utara menjadi perhatian setelah dirinya bertemu langsung dengan warga.
Ia mengaku mendengar keluhan masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air pada waktu tertentu.
“(Ada laporan.Red) Jam 4 pagi nggak ada air. Saya sedih sekali. Makanya, saya sampai siang, sorenya saya langsung rapatkan dengan tim. Kita lakukan, supaya mereka menikmati air,” tuturnya.
PDAM kemudian memperbesar jaringan pipa di kawasan tersebut. Tias menyebut diameter pipa yang digunakan berada pada kisaran 100 hingga 200.
“Pipa sudah besar dari 100 sampai 200 diameter. Itu mereka merasakan, ‘Wah, sudah lumayan nih, sudah ada air’,” katanya.
Meski demikian, Tias mengakui persoalan tekanan air belum sepenuhnya selesai.
Pada jam beban puncak, tekanan masih dapat melemah sehingga warga di beberapa titik membutuhkan pompa.
“Walaupun pada jam tertentu, yang beban puncak tadi itu memang masih agak lemah tekanannya, harus menyedot pakai pompa,” ujarnya.
Namun, pada jam normal, kondisi distribusi disebut sudah lebih baik.













