Di tengah konsolidasi itu, Golkar Surabaya juga mulai mengantisipasi kemungkinan perubahan peta daerah pemilihan (dapil).
Akmarawita menyebut jumlah penduduk Surabaya yang telah mencapai sekitar tiga juta jiwa berpotensi memengaruhi konfigurasi dapil dan jumlah kursi DPRD.
“Kemungkinan dapil itu akan memekar. Bisa tujuh, delapan, dan kemudian jumlah dewannya juga pasti akan bertambah,” katanya.
Meski belum ada keputusan final mengenai jumlah dapil, Golkar mengaku telah menyiapkan sejumlah skenario.
Pemetaan internal bahkan telah dilakukan untuk menghadapi kemungkinan Surabaya memiliki tujuh, delapan hingga sembilan dapil.
“Kalau skenario A strateginya seperti ini, skenario B strateginya seperti ini. Kalau dapil tujuh seperti apa, kalau dapilnya delapan seperti apa, dapilnya sembilan. Jadi langkah-langkah itu yang kita sudah punya sebenarnya,” ujarnya.
Pemetaan tersebut mencakup penataan bakal calon legislatif dan konstituen yang telah dimiliki partai.
Jika pemekaran dapil benar-benar terjadi, Golkar akan menyesuaikan penempatan caleg dan basis konstituen dengan konfigurasi wilayah baru.
“Kalau misalnya memang dapil itu mekar, mungkin tujuh, delapan, kita sudah siapkan. Menata kembali teman-teman caleg yang nanti akan tersebar di beberapa dapil. Kemudian konstituen-konstituen yang sudah kami punya datanya akan kita tata sesuai dengan strategi yang sudah kami tetapkan,” katanya.













