Surabaya, Cakrawalanews.co | Pagi itu, langkah Martha Bunga Yellana Putri Harving membawa dirinya ke lingkungan baru yang berjarak ratusan kilometer dari rumah. Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus ia tinggalkan sementara demi satu tujuan yang sejak kecil ia simpan: menjadi dokter dan kembali mengabdi untuk masyarakat di daerah asalnya.
Yellan, sapaan akrabnya, merupakan salah satu mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Baginya, memilih menjadi dokter bukan sekadar mengejar profesi atau gelar akademik. Ada pengalaman dan cerita dari tanah kelahirannya yang membuat cita-cita itu terasa begitu personal.
Sejak kecil, Yellan sudah membayangkan dirinya mengenakan jas putih. Namun, keinginan tersebut semakin kuat ketika ia melihat sendiri bagaimana sebagian masyarakat di NTT masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.
Keterlibatannya dalam organisasi forum anak muda membuat Yellan lebih sering berinteraksi dengan masyarakat. Dari sana, ia mendengar berbagai cerita tentang sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama di wilayah yang masih kekurangan tenaga medis.
“Saya tergabung dalam organisasi forum anak muda, sehingga saya sering mendengar langsung keluhan masyarakat tentang sulitnya mendapatkan akses kesehatan. Ada rasa sedih ketika melihat mereka harus berjuang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Di daerah saya, satu dokter bahkan bisa melayani dua hingga tiga puskesmas, sementara pendapatannya belum layak,” ujar Yellan.
Bukan hanya mendengar keluhan, Yellan juga menyimpan satu cerita yang hingga kini membekas dalam ingatannya. Cerita tersebut berkaitan dengan seorang ibu yang harus kehilangan nyawa ketika melahirkan karena keterbatasan tenaga medis.









