Ia pun mengingatkan bahwa masyarakat Surabaya memiliki sejarah panjang dalam menjaga kebersamaan dan perdamaian.
“Ini kota arek-arek yang selalu cinta kedamaian,” tegasnya.
Patroli malam tersebut, lanjut Syaifuddin, murni merupakan kegiatan Forkopimda. Tidak ada komunitas tertentu yang menjadi bagian khusus dari kegiatan tersebut. Kendaraan yang digunakan masing-masing pimpinan juga tidak menjadi persoalan.
“Ini murni Forkopimda. Apapun yang dikendarai, apapun yang dimiliki itu bebas,” jelasnya.
Syaifuddin memastikan kegiatan serupa akan terus dilakukan. Ia menyebut patroli bersama bukan sekadar aktivitas lapangan, melainkan juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarpimpinan daerah di tengah perbedaan tugas dan kewenangan institusi.
“Iya, kegiatan ini akan terus kami lakukan secara rutin. Meskipun masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab yang melekat pada institusinya, kami tetap menjaga kebersamaan dan sinergi untuk bersama-sama menjaga Kota Surabaya,” katanya.
Ia menambahkan, seluruh unsur Forkopimda memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal.
“Ini juga menjadi satu sarana komunikasi, sarana saling mendekat. Jadi saling mendekat untuk kebersamaan karena kita semua Forkopimda punya tanggung jawab menjaga Kota Surabaya, memberi layanan warga Surabaya dengan baik,” pungkasnya.













