Ahlussunnah wal Jamaah, kata dia, memiliki karakter inklusif, mengedepankan persatuan, serta mampu membangun hubungan dengan kelompok lain tanpa kehilangan jati diri.
“Paham Ahlussunnah wal Jamaah adalah paham inklusif, paham persatuan dan kesatuan yang akan mampu mewujudkan persatuan dan kesatuan,” tegasnya.
Jika dahulu perjuangan NU diarahkan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada abad kedua perjuangan tersebut harus ditransformasikan menjadi upaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
“Indonesia merdekanya harus ditransformasi oleh keberhasilan cita-cita luhur kemerdekaan. Kita merdeka, tetapi kita belum merasakan kemerdekaan itu,” ujarnya.
Kiai Asep menilai NU harus kembali memainkan peran strategis sebagai kekuatan moral, keagamaan dan kebangsaan yang mampu memberikan arah bagi masyarakat sekaligus menjaga persatuan bangsa.
Sementara Ketua Jurnalis Pokja Grahadi Fatimartuzzahroh yang akrab disapa Ima mengatakan dialog ini diinisiasi dari keinginan berkontribusi insan pers Jawa Timur menyongsong Muktamar ke-35 NU. Terlebih, Jatim menjadi tuan rumah pelaksanaan muktamar yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
“Semangatnya supaya suara-suara ataupun pemikiran dari alim ulama di Jawa Timur bisa terdengar dan juga bisa tersampaikan untuk harapan terkait transformasi, reorientasi kepemimpinan NU pada abad kedua nantinya,” kata Ima.
Ia menjelaskan, gagasan dialog tersebut bermula dari diskusi para jurnalis Pokja Grahadi bersama Sekjend JKSN M Ghofirin terkait kontribusi apa yang bisa dilakukan untuk gelaran Muktamar agar bisa menghasilkan kepemimpinan NU yang lebih baik. Gagasan itu kemudian dibicarakan dengan Kiai Asep dan mendapat sambutan positif hingga akhirnya diwujudkan dalam dialog publik tersebut.
Sekitar 60 wartawan dari Jawa Timur hadir dalam forum itu. Selain insan pers, kegiatan juga diikuti perwakilan PMII, GP Ansor, IPNU, IPPNU, ISNU dan juga Sarbumusi.
Ima berharap hasil pemikiran para ulama dan kiai yang muncul dalam dialog dapat disebarluaskan kepada masyarakat sebagai bagian dari kontribusi pers dalam menyongsong Muktamar ke-35.
“Harapannya bisa mensyiarkan hasil dari pemikiran para ulama, para kiai di Jawa Timur untuk harapan kepemimpinan NU yang lebih baik ke depannya,” pungkasnya. (caa)



