Ia melihat dinamika percakapan anak-anak Gen Alpha yang akrab dengan istilah-istilah dan tarian populer di media sosial, seperti tarian Six Sevendance, Dance Brazil, hingga yang viral sekarang Tarian Semut.
Uniknya, proses penentuan judul tesis ini sempat mengalami penyesuaian agar linier dengan karya ilmiah yang disetujui dan siap dipublikasikan bersama dosen pembimbing.
“Sebenarnya judul awal proposal itu bukan ini. Tapi karena saya menemukan fenomena anak-anak Generasi Alpha ngobrolin tren viral saat bekerja di lapangan, saya pikir ini sangat menarik untuk dijadikan penelitian. Ditambah lagi, riset komunikasi itu memang harus selalu up-to-date agar seru,” ujar Leni di Untag Surabaya pada Rabu (12/8/2026).
Salah satu temuan utama dari riset Leni adalah pandangan kritis terhadap istilah brain rot.
Selama ini, konsumsi tren viral sering diasosiasikan dengan dampak buruk atau pendangkalan budaya. Namun, hasil wawancara mendalam terhadap enam orang informan Gen Alpha menunjukkan realita yang lebih kompleks.
Menurut Leni, fenomena ini tidak melulu berdampak destruktif, melainkan bentuk interaksi sosial baru yang didorong oleh algoritma platform media sosial FYP/For You Page.
Beberapa poin utama temuan riset tersebut antara lain yaitu Pengaruh Algoritma & Lingkungan karena anak-anak terdorong mengikuti tren karena konten yang sering muncul di FYP TikTok serta materi obrolan santai antar teman sejawat.




