“Pesantren tidak hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga tempat membentuk karakter dan kebiasaan hidup yang baik. Menjaga kesehatan serta menciptakan lingkungan bebas asap rokok adalah bagian dari menjaga amanah Allah SWT,” tutur Ustadz M. Ikhwan.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Dekan III FK UNUSA, dr. Hafid Algristian, Sp.KJ, menyampaikan bahwa kemitraan antara perguruan tinggi dan pesantren merupakan langkah strategis untuk menanamkan budaya hidup sehat yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Tidak sekadar penyampaian teori PHBS dan bahaya paparan asap rokok, acara dikemas interaktif lewat sesi Focus Group Discussion (FGD) dan tanya jawab.
Para santri mahasiswa tampil aktif mendiskusikan berbagai tantangan dalam mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) serta merumuskan strategi edukasi sebaya.
Guna melengkapi upaya pencegahan, tim FK UNUSA juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan dasar sebagai langkah deteksi dini kondisi tubuh para peserta.
Mencetak Agen Perubahan di Lingkungan Santri
Ketua Pelaksana PkM, dr. Paul Agus Dwiyanu, Sp.P(K), FAPSR, FISR, menekankan bahwa target utama dari program ini adalah perubahan perilaku nyata.





