Di sektor perekonomian, persentase penduduk miskin di Jatim tercatat masih berada di angka kisaran 9,3 persen, meskipun kemiskinan ekstrem berhasil ditekan hingga 0,29 persen.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jatim berada di angka 4,2 persen. Walau angka pengangguran tersebut lebih rendah dari rata-rata nasional sebesar 5,3 persen, jumlah pengangguran dinilai masih menumpuk tinggi di kawasan perkotaan.
Sektor kualitas hidup juga tidak luput dari sorotan tajam. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jatim tahun 2025 memang naik tipis ke angka 74,65 dari tahun sebelumnya yang berada di angka 74,00.
Namun, raihan tersebut nyatanya masih tertinggal jauh di bawah DKI Jakarta yang telah menembus 81,65. Tragisnya, kesenjangan antarwilayah di Jatim sangat kontras, di mana IPM Kota Surabaya sudah mencapai angka 82,0 sedangkan Kabupaten Sampang masih terpuruk di angka 66,5.
“Masih ada ketimpangan akses air bersih, sanitasi, dan perumahan layak di wilayah pedesaan. Di sektor kesehatan, kasus TB (Tuberkulosis) bahkan masih menyentuh angka sekitar 50 ribu kasus per tahun, ditambah distribusi tenaga kesehatan yang belum merata. Begitu pula infrastruktur, proyek tol dan pelabuhan memang pesat, tetapi konektivitas di desa-desa terpencil masih sangat terbatas,” urainya.












