“Anak-anak harus tahu bahwa ilmu yang mereka pelajari bukan sekadar untuk menjawab soal ujian, tetapi untuk menjawab persoalan hidup. Ketika mereka paham realitas rakyat, di situlah empati tumbuh,” katanya.
Ia menambahkan, guru memiliki peran sentral dalam agenda besar tersebut. Karena itu, kesejahteraan, kapasitas, dan martabat guru harus menjadi prioritas kebijakan. “Tidak mungkin kita bicara generasi emas jika gurunya belum dimuliakan. Guru harus diberi ruang berkembang, dilatih menghadapi perubahan zaman, dan didukung penuh agar bisa mendidik dengan tenang dan bermutu,” tuturnya.
Sri Untari juga mengingatkan bahwa bonus demografi Indonesia yang akan mencapai puncaknya dalam dua dekade mendatang bisa menjadi berkah atau justru petaka. Semua tergantung pada kualitas pendidikan hari ini.
Jika pendidikan gagal membentuk generasi tangguh dan produktif, maka bonus demografi hanya akan melahirkan pengangguran massal, ketimpangan baru, dan konflik sosial. Namun bila pendidikan berhasil, Indonesia akan memiliki kekuatan besar untuk menjadi negara maju.
“Bonus demografi tidak datang dua kali. Karena itu, pendidikan kita harus menyiapkan generasi yang kuat mentalnya, sehat pikirannya, terampil tangannya, dan luhur hatinya,” pungkasnya. (caa)












