Di sinilah refleksi Kartini menemukan maknanya hari ini. tidak hanya memperjuangkan akses, tetapi juga keberlanjutan ruang bagi perempuan untuk hidup setara.
Hari ini, perjuangan itu berpindah medan: dari ruang pingitan ke ruang anggaran.
Tanpa keberpihakan yang terstruktur, banyak hal akan berhenti sebagai simbol. Program ada, tetapi tidak mengakar. Fasilitas seperti ruang aman di transportasi hadir, tetapi belum tentu berkembang menjadi sistem kota yang sepenuhnya inklusif. Perempuan bergerak, tetapi tanpa jaminan keberlanjutan.
Lebih jauh, ini bukan sekadar isu perempuan. Ini adalah ukuran keadilan kota. Apakah Surabaya berani menempatkan perspektif perempuan sebagai bagian inti dalam pembangunan, atau masih sebagai pelengkap?
Pemuda Surabaya memiliki peran penting untuk memastikan pertanyaan ini tidak berhenti sebagai wacana. Anggaran hari ini bukan lagi dokumen tertutup. Ia adalah ruang publik yang bisa dibaca, diuji, dan dikritisi.
Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk menguji keseriusan itu.












