Apakah perspektif perempuan sudah masuk dalam keseluruhan proses penganggaran? Apakah program seperti KSH didukung oleh alokasi yang jelas, berkelanjutan, dan terukur dampaknya? Apakah kebijakan transportasi ramah perempuan dikembangkan secara sistematis, bukan sekadar respons parsial?
Di titik inilah KSH menjadi cermin paling jujur.
KSH telah membuktikan bahwa ketika perempuan diberi ruang, kota bisa bekerja lebih dekat dan lebih peka. Namun sekaligus, ia menjadi ujian: apakah keberpihakan ini cukup kuat untuk dirawat?
Merawat KSH bukan sekadar menjaga program tetap berjalan. Ia harus ditransformasikan menjadi sistem. Dibutuhkan kepastian anggaran, penguatan kapasitas, serta pengakuan kerja yang layak. Lebih dari itu, KSH harus dipastikan tidak bergantung pada figur atau periode kepemimpinan tertentu.
Sebab yang kerap terjadi, program yang lahir hari ini bisa meredup esok hari ketika kepemimpinan berganti. Jika itu terjadi, maka yang hilang bukan hanya program tetapi kepercayaan publik.
Jika gender responsive budgeting dijalankan secara konsisten, maka KSH tidak akan berhenti sebagai inisiatif. Ia akan menjadi fondasi kebijakan yang tumbuh, terukur, dan bertahan melampaui siklus politik.












