Penguatan infrastruktur ini dinilai krusial mengingat Jawa Timur merupakan lumbung pangan nasional. Dengan ketersediaan sarana irigasi yang lebih modern dan tangguh, risiko gagal panen akibat defisit air dapat ditekan hingga nol persen jika mitigasi berjalan optimal.
Langkah ini juga mencakup pemberian bantuan-bantuan stimulan untuk menjaga kondisi operasional masyarakat petani di lapangan agar mereka tetap berdaya di tengah krisis.
Lebih lanjut, analisis dari Komisi B menekankan bahwa sinkronisasi antara kebijakan anggaran dengan kebutuhan riil di sektor agraris harus berjalan beriringan. Infrastruktur yang dibangun bukan sekadar proyek fisik, melainkan instrumen perlindungan ekonomi bagi para petani yang paling rentan terdampak krisis global.
Diharapkan, dengan adanya dukungan sarana dan prasarana yang matang, produktivitas lahan di Jawa Timur tetap stabil meski dihadapkan pada kekeringan panjang. Selain penguatan internal, koordinasi lintas sektoral menjadi kunci agar masyarakat memiliki sandaran yang kuat saat menghadapi dinamika iklim yang kian ekstrem. (caa)










