Komunikasi kurang berjalan baik dan sering muncul saling menyalahkan,” katanya. Menurut dia, persoalan tersebut terutama terjadi dalam relasi antara pemegang otoritas atau pimpinan dengan para bawahan di lingkungan kampus.
Lebih lanjut, Kurjum menilai model kepemimpinan yang terlalu menekan atau cenderung arogan dapat berdampak pada melemahnya kompetensi dan kenyamanan kerja sivitas akademika.
“Kalau ada tekanan dari pemegang otoritas, tentu membuat atmosfer akademik tidak sehat. Ini yang perlu diperbaiki melalui terobosan kepemimpinan baru,” ujarnya. Ia menekankan bahwa kepemimpinan UINSA ke depan perlu melakukan restorasi hubungan antarelemen di lingkungan kampus dengan pendekatan yang lebih humanis.
“Perlu ada terobosan baru untuk merestorasi hubungan antara satu unsur dengan yang lain. Prinsipnya harus humanis, agar hubungan antar sivitas akademika, baik dosen maupun tenaga kependidikan bisa kembali harmonis,” kata Kurjum.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni UIN Sunan Ampel (IKA-UINSA) periode 2022–2026, Ida Fauziyah, menekankan pentingnya sinergi antara pimpinan kampus dengan para alumni dalam membangun perguruan tinggi ke depan. Menurut mantan Menteri Ketenagakerjaan periode 2019–2024 tersebut, alumni memiliki potensi besar sebagai mitra strategis bagi pengembangan kampus.












