
M. Prasanti Rahmawatun (58), warga Tanah Merah, membagikan perjalanan hidupnya yang menyentuh hati. Beberapa tahun lalu, Santi berada di titik nadir setelah kehilangan putri tercintanya. Duka yang mendalam kian diperparah oleh lilitan utang yang menumpuk hingga ia sempat berpikir nekat untuk menjual ginjal demi melunasi beban finansialnya.
Titik balik bagi Santi muncul saat ia memutuskan bergabung dengan UMKM Koperasi Sumber Mulia Barokah binaan Pemkot Surabaya. Berbekal kemampuan awal yang hanya bisa menjahit lurus, ia tekun mempelajari berbagai teknik melalui pelatihan yang disediakan.
Upah pertamanya sebesar Rp90.000 per hari menjadi langkah awal menuju perubahan besar. Kini, Santi mampu mengantongi penghasilan ratusan ribu rupiah setiap hari, bahkan telah memiliki mesin jahit modern sendiri dan berhasil menebus rumahnya kembali.
Inspirasi serupa datang dari Ma’ruf, warga Tenggumung. Sebagai mantan pekerja serabutan, Ma’ruf dulu harus bersusah payah mencari nafkah dengan penghasilan yang tidak menentu. Perubahan drastis terjadi saat ia bersinergi dengan program koperasi Pemkot.
Berkat kegigihannya, kini Ma’ruf sanggup memotong hingga 1.000 potong bahan seragam dalam sehari dengan potensi pendapatan mencapai Rp2 juta per hari. Keberhasilan ini tidak hanya menyejahterakan keluarganya, tetapi juga memungkinkan Ma’ruf menyekolahkan anaknya di pondok pesantren.
Camat Pabean Cantian, Muhammad Januar Rizal, menegaskan bahwa kisah Santi dan Ma’ruf merupakan bukti nyata efektivitas program pemberdayaan ekonomi di Surabaya. Menurutnya, program ini bukan sekadar teori, melainkan solusi riil untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan secara langsung di tengah masyarakat.
Kedua sosok ini menjadi simbol kuat bagi warga Kota Pahlawan lainnya bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya.
Dengan memanfaatkan program pemberdayaan seperti padat karya dan koperasi, serta didukung etos kerja yang kuat, kemandirian ekonomi bukan lagi sekadar impian.( wa/had)












