Oleh: Edy Suhardono
Peneliti pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre
Pagi yang seharusnya menyegarkan kini menjadi momen menghirup racun. Di banyak sudut pemukiman Indonesia, asap pembakaran sampah menyusup ke rumah-rumah, menjadikan paru-paru warga sebagai tempat pembuangan akhir.
Menurut Survei Kesehatan Indonesia oleh Kementerian Kesehatan (2023), sebanyak 57,2% rumah tangga masih membakar sampah secara mandiri. Ini bukan sekadar statistik, melainkan potret kegagalan sistemik dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Dari perspektif psikologi lingkungan, perilaku ini mencerminkan bias persepsi risiko. Kahneman (2011) menjelaskan bahwa manusia cenderung meremehkan ancaman yang lambat dan tak kasat mata, seperti partikel PM2.5 yang memicu kanker paru. Kita lebih takut pada kecelakaan lalu lintas daripada kematian perlahan akibat polusi udara.
Ironisnya, tindakan membakar sampah sering dianggap sebagai solusi rasional. Thaler dan Sunstein (2008) dalam konsep “nudge” menunjukkan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh arsitektur pilihan. Ketika tidak tersedia Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang mudah dijangkau—fakta yang terjadi di lebih dari 80% desa di Indonesia (KLHK, 2018)—maka membakar sampah menjadi pilihan “efisien”. Namun efisiensi ini menelan korban: anak-anak yang batuk, lansia yang sesak napas, dan tetangga yang terpaksa menutup jendela.
Di balik asap itu, ada warisan budaya yang tak lagi relevan. Edy Suhardono (2024) dalam artikelnya “Paru-Paru sebagai TPA?” menyebut bahwa generasi baby-boomer tumbuh di era ketika membakar sampah adalah norma. Sosialisasi masa kecil membentuk perilaku dewasa, sebagaimana dijelaskan oleh Erikson (1963) dalam teori perkembangan psikososial. Namun norma ini kini menjadi maladaptif dan berbahaya.
Antropolog Roy Rappaport (1999) menekankan bahwa praktik budaya bisa menjadi bumerang jika konteks ekologis berubah. Membakar daun di ladang berbeda dengan membakar plastik di halaman rumah. Tapi kita tetap melakukannya, seolah ritual itu sakral. Padahal, ia adalah racun yang kita wariskan.
Konflik Udara: Ketika Tetangga Menjadi Musuh
Asap bukan hanya polusi, tapi juga pemicu konflik sosial. Jemuran yang bau asap, anak yang batuk, dan pertengkaran kecil adalah gejala dari struktur sosial yang gagal. John Bellamy Foster (2000) menyebut ini sebagai “keretakan metabolik” antara manusia dan alam. Ketimpangan akses terhadap fasilitas lingkungan memperparahnya. TPS tersedia di wilayah makmur, tapi absen di pinggiran.





