Kita perlu merenung. Apakah kenyamanan sesaat lebih penting daripada kesehatan jangka panjang? Apakah efisiensi praktis lebih utama daripada solidaritas ekologis? Apakah kita masih bisa menyebut diri sebagai komunitas jika kita saling meracuni?
Artikel ini bukan sekadar opini. Ia adalah ajakan untuk berpikir ulang. Untuk melihat bahwa asap bukan hanya polusi, tapi simbol dari kegagalan kita sebagai masyarakat. Dan bahwa perubahan bukan utopia, melainkan kebutuhan.
Karena udara tidak mengenal batas pagar. Dan napas kita adalah milik bersama.





