Surabaya. Cakrawalanews.co – Puluhan Gus atau kiai muda putera pengasuh pondok pesantren ternama yang tergabung dalam wadah Gawagis Jawa Timur bertemu dengan ketua DPR RI Ning Puan Maharani dalam rangka memberikan masukan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat kalangan santri di Jawa Timur.
Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Surabaya pada Rabu (15/6/2022) malam itu bagi cucu Sang Proklamator Bung Karno bukan saja bagian dari tugas negara melainkan juga amanah historis yang diwariskan leluhur untuk senantiasa mempererat hubungan antara kaum nasionalis (Jas Merah) dengan kaum santri (Jas Hijau).
Ketua Gawagis Jatim KH Maksum Faqih dari Ponpes Langitan Tuban dalam sambutannya mengatakan, bahwa Bung Karno sejak muda hingga menjadi bapak Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia senantiasa berhubungan baik dengan ulama dan para kiai pengasuh pondok pesantren.
Bahkan saat menjalani pengasingan di Bengkulu, kata Gus Maksum, Bung Karno masih tetap aktif berkirim surat dengan kakeknya (KH Abdul Hadi) untuk meminta dukungan dan doa dari kiai-kiai pesantren agar perjuangan merebut kemerdekaan bisa berjalan dengan baik dan segera terwujud.
Gus Maksum juga pernah mendapat cerita langsung dari pamannya, bahwa pada Muktamar NU tahun 1940 an di Surabaya nama Bung Karno dan Bung Hatta juga ramai dibicarakan oleh para kiai terkait sosok yang paling layak menjadi pemimpin Indonesia jika bangsa ini berhasil lepas dari penjajahan dan meraih kemerdekaan.
“Ada 11 kiai khos yang bermusyawarah, hasilnya 10 orang kiai memilih Bung Karno dan sisanya memilih Bung Hatta. Lima tahun kemudian (17 Agustus 1945) terbukti Bung Karno-lah yang menjadi presiden pertama Indonesia,” tegas Gus Maksum dikonfirmasi, Jumat (17/6/2022).
Terlepas dari itu, kita yang notabene generasi ketiga atau para cucu sebenarnya masih ada hubungan dan sudah selayaknya melestarikan tradisi yang telah dibangun dan diwariskan oleh para leluhur, dimana Jas Merah (kaum Nasionalis) dan Jas Hijau (kaum Religius) selalu bergandeng tangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
“Dalam mengisi kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan, harusnya kaum relegius yang akarnya pesantren dan santri maupun kaum nasionalis harus tetap bergandengan tangan, berkomunikasi dan berdiskusi untuk saling mensupport perjuangan yang mereka lakukan melalui jalur masing-masing dan saling mendoakan,” harap Gus Maksum.
“Hati kaum santri dan kaum nasionalis jangan sampai pernah lepas dan jangan bercerai berai. Dua kekuatan harus selalu dipertahankan, insyaAllah tidak akan ada yang bisa menggoyahkan apa yang menjadi cita-cita bapak Proklamator kita, Indonesia berdaulat, berjaya dan menjadi tolak ukur di kancah internasional,” imbuhnya.




