Berita UtamaCakrawala JatimCakrawala NasionalIndeksPeristiwaPilihan Redaksi

Muktamar ke-35, Kiai Asep : NU Harus Kembali Dikendalikan Ulama

×

Muktamar ke-35, Kiai Asep : NU Harus Kembali Dikendalikan Ulama

Sebarkan artikel ini
712202620423
712202620423

Surabaya. Cakrawalanews.co  – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, akhir Agustus 2026, arah kepemimpinan NU memasuki abad kedua menjadi perhatian para ulama dan tokoh pesantren di Jawa Timur (Jatim).

Hal itu mengemuka dalam Dialog Publik bertema “Transformasi–Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II” yang digelar Jurnalis Pokja Grahadi bersama Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Aula JKSN, Surabaya, Rabu (12/8/2026).

Dialog tersebut menghadirkan sejumlah narasumber kawakan mulai dari Pengasuh Pesantren Bumi Sholawat KH Agoes Ali Masyhuri alias Gus Ali, Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Prof Usep Abdul Matin, Guru Besar Bidang Sejarah dan Pemikiran Islam Klasik UINSA Prof Dr KH Imam Ghozali Said, serta Ketua Umum JKSN sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim sebagai pembicara utama.

Dalam paparannya, Kiai Asep yang juga putra pahlawan nasional serta muasis NU KH Abdul Chalim, menegaskan bahwa transformasi NU pada abad kedua harus tetap berpijak pada akar sejarah kelahirannya sebagai organisasi yang dibangun dari pesantren dan ulama.

Menurut Kiai Asep, NU sejak awal bukan sekadar organisasi kemasyarakatan, melainkan wadah yang lahir dari kebutuhan pesantren untuk menyatukan kekuatan dalam menghadapi persoalan keumatan dan kebangsaan.

Ia mengingatkan bahwa pesantren telah menjadi pusat pendidikan sekaligus perjuangan masyarakat jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara.

“Sentral-sentral perlawanan adalah pondok-pondok pesantren, tetapi mudah dilumpuhkan karena berdiri sendiri-sendiri,” ujar Kiai Asep yang juga Ketua Umum Pergunu ini.

Kondisi tersebut, lanjutnya, mendorong para ulama dan tokoh pesantren memikirkan pentingnya membangun organisasi yang dapat menyatukan kekuatan pesantren.

Salah satu proses penting sebelum berdirinya NU, kata dia, adalah pembentukan Nahdlatul Wathan di Surabaya pada 1916 sebagai lembaga kaderisasi. Para pemuda, termasuk putra kiai dan tokoh, dipersiapkan untuk menjadi generasi penerus perjuangan pesantren.

Dari proses kaderisasi tersebut berkembang gagasan membentuk organisasi yang lebih besar dan mampu menaungi pesantren-pesantren. Kiai Asep kemudian memaparkan proses kelahiran NU pada 1926.

Ia menyebut gagasan tersebut tidak terlepas dari pemikiran KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Hasyim Asy’ari bersama sejumlah ulama pesantren lainnya.

Menurutnya, KH Hasyim Asy’ari menghendaki agar organisasi tersebut tidak dibangun oleh perseorangan, melainkan lahir dari lembaga-lembaga pesantren yang diwakili para ulama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *