Surabaya, CakrawalaNews.co | Bulu bebek yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah peternakan ternyata menyimpan potensi ekonomi besar. Di Jawa Timur, komoditas tersebut bahkan telah menjadi salah satu produk yang mampu menembus pasar internasional dengan nilai ekspor mencapai puluhan miliar rupiah.
Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat, sepanjang Januari hingga Juni 2026, sebanyak 26 sertifikat ekspor bulu bebek telah diterbitkan dengan total volume mencapai 916,2 ton. Nilai ekspornya pun mencapai Rp60,24 miliar.
Bulu bebek asal Jawa Timur tersebut dikirim ke sejumlah negara, di antaranya China, Taiwan, Vietnam, dan Thailand.
Potensi ekspor ini terus didorong Barantin dengan memberikan pendampingan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya dalam memahami persyaratan karantina dan membuka akses menuju pasar global.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui Go Ekspor Barantin Web Series Episode 2 bertajuk “Kupas Tuntas: Bulu Bebek Jawa Timur Mendunia” yang digelar secara daring, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi wadah edukasi bagi pelaku usaha untuk memahami lebih jauh mengenai proses ekspor, standar mutu, hingga berbagai persyaratan yang harus dipenuhi sesuai ketentuan negara tujuan.
Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin Sriyanto mengatakan, sistem karantina memiliki peran penting dalam menjaga kepercayaan pasar internasional terhadap komoditas asal Indonesia.
“Setiap komoditas ekspor, termasuk bulu bebek, wajib melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan dokumen sesuai persyaratan negara tujuan. Langkah ini bertujuan memastikan produk Indonesia bersih, sehat, aman, dan memenuhi standar internasional sehingga mampu bersaing di pasar global,” ujar Sriyanto.
Menurut Sriyanto, Barantin tidak hanya bertugas melakukan pengawasan terhadap komoditas yang akan diekspor. Lembaga tersebut juga berperan sebagai fasilitator yang mendampingi pelaku usaha agar mampu memenuhi berbagai persyaratan ekspor.
Dengan pendampingan tersebut, semakin banyak komoditas unggulan dari daerah diharapkan dapat memiliki nilai tambah dan memperluas pasar hingga ke mancanegara.
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Karantina Wisnu Wasisa Putra menilai, masih banyak komoditas daerah yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun belum dikembangkan secara maksimal.
Salah satu kendalanya adalah keterbatasan informasi yang dimiliki pelaku usaha mengenai mekanisme dan persyaratan untuk masuk ke pasar ekspor.
Karena itu, edukasi melalui Web Series Go Ekspor diharapkan dapat membantu pelaku usaha mengenali peluang pasar internasional sekaligus memahami ketentuan yang harus dipenuhi agar produknya dapat diterima di negara tujuan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Karantina Jawa Timur Hudiyansyah Is Nursal menyebut Jawa Timur memiliki ekosistem industri bulu bebek yang cukup lengkap. Rantai usaha tersebut melibatkan peternak, pengumpul, hingga industri pengolahan yang berorientasi ekspor.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan layanan karantina menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi bulu bebek sebagai komoditas ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat, terutama UMKM.
Tren ekspor bulu bebek Jawa Timur juga terlihat sepanjang 2025. Pada tahun tersebut, Karantina Jawa Timur memfasilitasi 83 kali pengiriman dengan total volume mencapai 2.580 ton. Nilai ekspornya tercatat sebesar Rp241,09 miliar.
Dalam kegiatan Web Series Go Ekspor, pelaku usaha PT Daya Setia Abadi, Widha Krisna Sugihartono, turut membagikan pengalaman terkait pengembangan bisnis komoditas bulu bebek.
Selain itu, Atase Perdagangan Republik Indonesia di Taipei Wara Agustina Rukmini juga berbagi informasi mengenai peluang pasar, proses pengolahan, standar mutu, hingga strategi pemasaran di negara tujuan.
Barantin berharap edukasi dan pendampingan yang diberikan dapat mendorong semakin banyak UMKM memanfaatkan komoditas lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi untuk masuk ke pasar internasional.
“Bulu bebek bukan lagi limbah, melainkan komoditas bernilai ekspor. Melalui sistem karantina yang andal, kami ingin memastikan produk Indonesia semakin dipercaya pasar dunia sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkas Sriyanto.










